Hikmah Bercocoktanam Bagi Seorang Muslim
002. Hikmah Bercocok tanam

Keluarga Muslim yang Dirahmati Allah.

Di hari-hari terakhir ini, beredar kabar tentang naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok, terutama harga beras. Di masyarakat secara umum timbul berbagai keresahan akan kondisi ini. Tentu kondisi ini tidak boleh terjadi berlarut-larut dan selalu terulang dari masa ke masa. Maka apakah solusinya?

In Sya-Allah, dalam pembahasan kali ini saya tidak akan menawarkan solusi yang muluk-muluk dan rumit, sehingga sulit untuk diterapkan. Bismillah.

Ayah-Bunda tercinta, keluarga Muslim yang dirahmati Allah Swt.

Menurut kami, salah satu faktor penyebab kerawanan pangan hari ini adalah berkurangnya minat kaum muda untuk belajar dan mengasah keterampilan bekerja dan berkarya di sektor pertanian, peternakan dan perkebunan. Padahal pemenuhan pangan adalah salah satu hal pokok (vital) dalam kehidupan kita setiap hari.

Kondisi kaum remaja hari ini seringkali disebut dengan Generasi Z atau Generasi Stroberi, yakni generasi manja yang pandai memanfaatkan teknologi terkini, tetapi minim dalam mental dan akhlaq. Pemandangan yang sudah lazim terjadi, anak-anak remaja lebih mementingkan bermain gadget (perangkat) dengan game online di dalamnya, daripada gemar menekuni ilmu-ilmu agama dan ilmu keterampilan hidup (life-skill).

Pesatnya perkembangan teknologi digital hari ini melahirkan sikap hidup yang serba instant (segalanya ingin cepat selesai), sehingga kurang menghargai akan adanya tahapan, proses, serta sikap shabar di dalamnya.

Lantas apakah solusinya?

Sebagai salah satu solusinya adalah, “Titipkanlah anak-anak ayah-bunda di pesantren-pesantren yang membekali ilmu agama, juga keterampilan hidup (life-skill)”. Apakah ini sulit? Tentu tidak, karena pesantren-pesantren seperti itu sudah banyak hadir di sekitar kita, salah satunya adalah di pesantren kita tercinta, Pesantren Keluarga Muslim – Dzuriyyah Thoyyibah Cianjur.

Ayah-Bunda tercinta, keluarga Muslim yang dirahmati Allah Swt.

Kita sebagai orangtua dengan segala kesibukan dan keterbatasan, bisa bekerjasama dengan pihak pesantren untuk sama-sama menanamkan dan melatih anak-anak kita dalam hal ‘Aqidah, Akhlaq, ‘Ibadah dan juga keterampilah hidup. Ingat ayah-bunda!, anak shalih itu bukan dicetak, tapi ditumbuhkan, dirawat dan dijaga layaknya tunas tanaman.

Mari saya ingatkan kembali, bagaimana Allah mengajarkan Rasulullah saw. dalam membangun Jama’ah Islam. Hal ini telah tercatat di dalam Al-Quran untuk kita jadikan pedoman dalam membangun anak-anak kita hari ini, yaitu sebagai berikut:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ٢٩

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Qs. Al-Fath [48]:29)

Mari kita perhatikan ayat di atas!

Di dalam ayat ini, Allah Swt. menerangkan akan karakter harapan yang mesti tumbuh dalam diri setiap Muslim, yaitu:

  • Tegas terhadap sifat dan perilaku kekufuran, dan berkasih-sayang terhadap para pelaku keimanan.
  • Senantiasa mengabdikan diri (Ruku dan Sujud) kepada Allah dengan orientasi karunia dan ridha Allah Swt. (Ikhlash).
  • Memiliki karya nyata sebagai bukti pengabdian diri (Atsarus-Sujud).

Nah, sungguh indah perumpamaan yang telah Allah Swt. gambarkan bagi mereka, yakni “Seperti benih yang mengeluarkan tunas, kemudian tunas itu tumbuh  kuat, besar dan kokoh”.

Dengan demikian, maka anak-anak kita hendaklah diarahkan menjadi anak-anak yang bertauhid, beribadah dengan benar, berakhlaqul-karimah dan mampu bermanfaat dengan karya nyata dalam kehidupannya. Inilah yang dimaksud dengan anak-anak yang shalih dan shalihat, yang akan membesarkan dan menguatkan Jama’ah kaum Muslimin, sehingga mampu mengantarkan  kepada teraihnya kemenangan Dinul-Islam. Aamiin.

Ayah-Bunda tercinta, keluarga Muslim yang dirahmati Allah Swt.

Mengapa Anak-Anak Harus Diajarkan Bertani dan Berkebun?

Ada beberapa hal yang menjadi hikmah dari belajar bertani dan berkebun yang didapati dalam Al-Quran dan Al-Hadits, di antaranya:

Menanam Tanaman memiliki banyak kebaikan dan pahala (Sedekah)

Kegiatan bercocok tanam itu sebagai aktivitas yang tidak akan pernah rugi, saking banyaknya mengandung sedekah. Perhatikan sabda Nabi saw. berikut ini:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkah ia menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)[1]

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu tanaman tersebut dimakan oleh burung atau manusia atau hewan ternak, melainkan hal itu bernilai sedekah baginya.” (HR. Muslim)[2]

Melatih Sifat Shabar, Santun dan Tawakkal

Ciri utama dari seorang Anak Shalih adalah Sifat Shabar dan santun. Sebagaimana di dalam Al-Quran:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠٠ فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ ١٠١

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar/santun. (Qs. Ash-Shaffat [37]:100-101)

Dengan belajar menanam tanaman, maka anak akan menyadari bahwa untuk dapat menghasilkan buah atau hasil panen, maka tanaman tersebut memiliki tahapan-tahapan proses yang panjang, mulai dari menanam benih, tumbuh, berbunga, berbuah dan sebagainya.

Allah Swt. berfirman:

تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ٢٥

(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. (Qs. Ibrahim [14]:24-25)

Adapun hasil panen itu, bukanlah ditentukan semata karena hasil kerja keras kita, melainkan “Atas Idzin Allah”, maka timbullah dalam diri rasa tawakkal yang benar-benar tulus kepada Allah.

Dengan demikian bertani melatih kemampuan menahan dan mengendalikan diri dari setiap dorongan syahwat dan ketergesaan (sikap hidup Instant), serta menguji mental shabar dan tawakkal. In Sya-Allah!

Melatih fokus, ketelitian, keteraturan dan rasa tanggungjawab.

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖۚ وَالَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًاۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ ࣖ ٥٨

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (Qs. Al-A’raf [7]:58)

Setiap tahap dalam bercocok tanam, maka ada keteraturan tertentu yang telah ditetapkan Allah sebagai bagian dari Sunnatullah, seperti: di tanah seperti apa tanaman itu dapat tumbuh dengan baik?, berapa ketinggian daratannya?. Di bulan apa harus ditanam? Kapan waktu menyiram? Memupuk dan lain sebagainya. Artinya, dalam bercocok tanam itu ada pola yang teratur dan hal-hal yang mesti diperhatikan dengan teliti (menjadi bahan Tafakkur).

Maka dengan demikian, maka anak akan terlatih untuk membuat perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan secara terus menerus terhadap hal yang menjadi tanggungjawabnya.

Melatih sikap hidup produktif dan jiwa kemandirian

Sesungguhnya agama Islam ini mengajarkan ummatnya untuk menghindari sifat ketergantungan dan kemalasan. Sebaliknya, betapa besar apresiasi yang diberikan Allah dan Rasul-Nya bagi seorang Muslim yang mampu hidup mandiri dan produktif. Perhatikan Hadits-hadits di bawah ini:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan seseorang adalah yang berasal dari usahanya, … “
(HR. An-Nasa’i)[3]

Dari Jabir bin Abdullah ra. Nabi saw. bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا فَإِنْ لَمْ يَزْرَعْهَا فَلْيُزْرِعْهَا أَخَاهُ

“Barangsiapa yang memiliki tanah, hendaknya ditanaminya, jika dia tidak sanggup menanaminya dengan sendiri, hendaknya saudaranya yang menanaminya.” (HR. Muslim)[4]

Dari Abu Umamah Al Bahiliy berkata: Ketika ia melihat cangkul atau sesuatu dari alat bercocok tanam, lalu ia berkata: aku mendengar Nabi saw. bersabda:

لَا يَدْخُلُ هَذَا بَيْتَ قَوْمٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ الذُّلَّ

“Barang seperti ini tidak masuk kerumah suatu kaum kecuali Allah akan memberikan kehinaan padanya.” (HR. Bukhari)[5]

Media, lahan dan Alat-alat keterampilan yang bisa menjadi sarana untuk menyambut rezeki dari Allah tidak boleh dibiarkan dalam keadaan menganggur, karena dengan demikian akan menjadikan kefaqiran dan kehinaan pada diri kita.

Tidak Ada Kata Terlambat

Ingatlah ayah-bunda, mendidik anak itu adalah sebuah investasi amal dunia dan akhirat, sehingga tidak ada kata “terlalu dini” atau “terlambat” dalam menanamkan sebuah kebaikan. Ingatlah sabda Rasulullah saw. yang tercinta:

إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمْ الْقِيَامَةُ وَفِي يَدِهِ فَسْلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika tiba hari kiamat sedang pada tangan kalian terdapat bibit pohon kurma, maka tanamlah”. (HR. Ahmad)[6]

Maka tidak pula ada kata terlambat menjadikan anak-anak kita sebagai kader-kader shalih dan shalihat, sehingga menjadi amal shalih yang pahalanya akan terus mengalir bahkan ketika kita telah wafat sekalipun.

Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Bukhari)[7]

Ketiga amal tersebut di atas adalah amal yang sifatnya regeneratif (berjalan terus menerus dalam menciptakan kebaikan), sehingga pantas saja hitungan pahalanya akan terus mengalir walaupun pelakunya telah wafat. Ma Sya-Allah, sungguh Allah Swt. itu Maha Adil dan Maha Sempurna.

Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan dan kelancaran kita dalam mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shalih dan shalihat. Aamiin


[1] Shahih Muslim No. 2900.

[2] Shahih Muslim No. 2904.

[3] Shahih. Sunan An-Nasa’i No. 4737.

[4] Shahih Muslim No. 2862.

[5] Shahih Bukhari No. 2153.

[6] Musnad Ahmad No. 12435. Syu’aib Al-Arnauth: “Shahih menurut syarat Muslim”.

[7] Shahih Bukhari No. 3084.