Kebersihan Lingkungan Bukti Taat kepada Allah Swt.
BersihkanHalaman - pkm-dt

Keluarga Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt.

Al-Hamdu lillah, kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan karunia terbesar kepada kita semua, yaitu  berupa Iman dan Islam.

Sesungguhnya Islam ini adalah panduan praktek hidup yang begitu seimbang. Seimbang antara ruhani dan jasmani. Seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Seimbang antara pribadi dan sosial.

Begitupun, Islam ini adalah agama yang mengajarkan kebersihan dan kesucian. Baik kebersihan ruhani maupun jasmani. Kebersihan pribadi dan lingkungan.

Keluarga Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt.

Betapa Allah mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya dari kotoran ruhani dan jasmani, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran, sebagai berikut:

 …إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ 

… Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Qs. Al-Baqarah[2]: 222)

Secara hakikat, Allah Swt. menghendaki kebersihan dan kesucian ruhani, namun ternyata Allah ajarkan itu dalam bentuk syari’at bersuci, seperti wudhu, mandi dan tayammum, yang secara dhohir adalah bentuk praktek kebersihan fisik dan jasmani.

Bersuci inilah dijadikan syarat sah dan diterimanya ‘Ibadah kita, bahkan ia menjadi setengah dari keimanan kita. Di dalam hadits, Nabi Saw. bersabda:

اَلطَّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ

“Bersuci adalah setengah dari Iman” (HR. Muslim)[1]

Keluarga Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt.

Selain menghendaki kebersihan diri, maka Allah pun menghendaki adanya kebersihan lingkungan.  Di dalam Hadits, Nabi Muhammad saw. memberikan perintah kepada para shahabat tercintanya:

طَهِّرُوْا أَفْنِيَتَكُمْ فَإِنَّ الْيَهُوْدَ لاَ تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

“Bersihkanlah halaman rumah kalian. Sebab orang-orang Yahudi tidak membersihkan halaman rumah mereka” (HR. Ath-Thabrani)[2]

Penyebutan “Yahudi” yang dimaksud di dalam hadits ini bukan berarti Allah itu diskriminatif akan makhluknya, dan bukan pula menganggap Rasulullah bersikap rasis atau intoleran. Melainkan ini sebagai bentuk pelajaran bagi kita semua selaku Muslim dari perjalanan kaum-kaum terdahulu.

Sesungguhnya Allah Swt. telah menciptakan Bani Israil  dengan keunggulan berupa kecerdasan yang luar biasa, sehingga mereka mampu menguasai teknologi dan perekonomian. Bisa kita lihat di dalam Al-Quran Surah Al-Jaatsiyah [45] : 16-17.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ۚ ١٦ وَاٰتَيْنٰهُمْ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْاَمْرِۚ فَمَا اخْتَلَفُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗاِنَّ رَبَّكَ يَقْضِيْ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ١٧

Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan kepada Bani Israil kitab suci, hukum, dan kenabian. Kami pun telah menganugerahkan kepada mereka rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu).

Kami telah menganugerahkan pula kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama). Maka, mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang ilmu kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan di antara mereka pada hari Kiamat apa yang selalu mereka perselisihkan.  (Qs. Al-Jaatsiyah [45] : 16-17)

Namun sayang hadirin sekalian, keunggulan dan kecerdasan itu tidak menjadikan mereka ta’at dan patuh kepada aturan Allah Swt., termasuk dalam hal-hal yang seringkali kita anggap sepele, seperti membersihkan halaman rumah sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. 

Jika kita renungkan bersama, sebuah perbuatan kecil ketika dibiarkan, maka akan menjadi sebuah kebiasaan (habits), dan kebiasaan ini akan membentuk sebuah karakter atau watak yang melekat pada diri kita. Ketika sudah menjadi karakter dalam diri seseorang, maka akan sulit diubah dan diluruskan.

Watak dan perbuatan mengotori apalagi merusak lingkungan hidup, merupakan perbuatan yang jauh dari rasa syukur kepada Allah Swt. bahkan akan menimbulkan kerusakan di alam semesta, maka pantas saja kalau Allah melaknat para pelaku pencemaran lingkungan.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda:

اِتَّقُوْا اَللَّاعِنَينَ: اَلَّذِيْ يَتَخَلَّى فِيْ طَرِيْقِ اَلنَّاسِ, أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

“Jauhkanlah dirimu dari dua perbuatan terkutuk (terlaknat), yaitu suka membuang kotoran di jalan yang sering dilalui manusia, atau  di tempat-tempat orang biasa berteduh.” (HR. Muslim)[3]

Secara logis kita bisa memahami bahwa kotornya lingkungan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan, kemudian mengundang berbagai penyakit bahkan wabah, pada akhirnya mengganggu kegiatan sosial ekonomi di masyarakat kita sendiri, jika sudah demikian tidak mustahil akan terjadi kerusakan-kerusakan di masyarakat.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَاۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al-Qashash [28]: 77)

Maka penting untuk dicatat, karakter seorang Muslim itu adalah orang yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, termasuk dalam hal kebersihan lingkungan hidup.

Keluarga Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt.

Lantas bagaimana kita memulai “Gerakan” kebersihan lingkungan hidup itu. Mari kita pelajari dari Sunnah Rasulullah saw.

Di masa-masa Awal Kenabian, Rasulullah saw. dilatih dan diajarkan bagaimana berda’wah dengan karya nyata (dakwah bil-haal), ajaran ini terekam sempurna dalam wahyu Al-Quran yang diturunkan, di antaranya adalah sebagai berikut:

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ 

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
(Qs. Al-Muddatstsir [74]: 1-7)

Ini adalah sebuah pendidikan langsung dari Allah (Tarbiyah Rabbaniyyah) kepada Rasulullah dalam mengemban tugas da’wah yang mulia. Allah Swt. memberikan bentuk pelatihan awal bagi Rasulullah saw. berupa kandungan-kandungan sebagai berikut:

  1. Motivasi dalam diri (“Bangunlah!”)
  2. Menginspirasi dan Memberi edukasi/kesadaran (“Berilah peringatan”)
  3. Keikhlasan (“Tuhanmu agungkanlah”)
  4. Mempraktekkan kebersihan jasmani dan ruhani (“Pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah”)
  5. Tulus dalam berkorban (“jangan memberi karena ingin memperoleh balasan lebih banyak”)
  6. Konsistensi (“Bershabarlah!”)

Keluarga Muslim  yang dirahmati Allah,

Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesehatan dan kemampuan untuk melaksanakan setiap perintah-Nya, dan juga menjauhi segala larangan-Nya.

Mari kita pelopori mulai dari diri kita masing-masing untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan kita. Insya Allah itu akan bernilai ibadah di hadapan Allah Swt.  sebagaimana janji yang telah diucapkan oleh Allah melalui lisan Nabi Muhammad saw.,

Nabi saw. bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ أَوْ قَالَ عَامِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala pelakunya.” (HR. Muslim)[4]

Semoga dengan mempraktekkan hidup bersih pada diri dan lingkungan kita, Allah Swt. mengangkat segala musibah dan penyakit yang sedang melanda negeri kita ini dengan segera. Aamiin.


[1] Shahih Muslim No. 328.

[2] Hasan. Al-Ausath 11/2.

[3] Shahih Muslim No. 397.

[4] Shahih Muslim No. 3509.