Generasi Rabbaniy - Generasi Literasi Islamiy yang Lurus
Rabbaniy

Muqaddimah: Islam dan Literasi

Keluarga Muslim yang dirahmati Allah,

Istilah “Literasi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia[1] mengandung 3 pengertian:

  1. Kemampuan menulis dan membaca
  2. Pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu
  3. Kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup

Kita semua telah mengetahui, bahwa ayat Al-Quran yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah kalimat: Iqra (Bacalah!). Sehingga sejak awal, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak berliterasi. Bahkan bisa dikatakan, bahwa karakter literasi adalah karakter yang melekat pada diri setiap Muslim, bukan saja sebagai kegiatan baca tulis, tapi menjadi sebuah kecakapan hidup (life-skill). Bukankah Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mencari ilmu? Sebagaimana sabda Nabi-Nya:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)[2]

Bahkan dengan ilmu, Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di hadapan-Nya,

… يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ …

… Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. …  (Qs. Al-Mujadilah [58]:11)

Allah swt. memerintahkan kepada ummat-Nya, yakni orang-orang yang terdidik dengan Kitabullah, agar senantiasa berkarakter Rabbaniy, sebagaimana termaktub di dalam firman-Nya:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ ٧٩

Tidak sepatutnya seseorang diberi kitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya dia berkata), “Jadilah kamu para Rabbaniy karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!” (Qs. Ali Imran [3]: 79)

Di dalam ayat ini, Allah mendefinisikan pengertian Rabbaniy sebagai “Orang yang senantiasa mengajarkan Kitabullah dan senantiasa mempelajarinya”. Jika dikaitkan dengan bagian awal ayat ini, maka memberi sebuah pengertian, bahwa seorang Rabbaniy bukanlah semata orang yang belajar dan mengajar Al-Quran, melainkan dia harus “Mendidik dirinya dengan Al-Quran sehingga terhindar dari penyimpangan orientasi dan misi hidupnya”.

Kriteria Rabbaniy

Keluarga Muslim yang dirahmati Allah,

Untuk selanjutnya, mari kita urai kriteria-kriteria Rabbaniy ini satu persatu:

1.    Selektif dalam Memilih Ilmu

Mengapa kita harus selektif dalam memilih ilmu? Bukankah setiap ilmu itu baik?

Ketahuilah, sesungguhnya tidak semua ilmu itu baik!. Banyak sekali ilmu yang bisa mencelakakan dan menyesatkan manusia. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah Du’a (permohonan) yang sangat bagus sekali, perhatikan hadits-hadits berikut:

Dari Jabir bin Abdullah ra., dia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ.

“Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat” (HR. Ibnu Hibban)[3]

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal: (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari)[4]

Harta dan Ilmu yang dipergunakan di jalan kebenaran (Al-Haqq) maka itulah yang bermanfaat. Adapun kebenaran itu rujukannya sudah jelas, yaitu wahyu yang bersumber dari Allah:

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ نَزَّلَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ ۗ …

Yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran, … (Qs. Al-Baqarah [2]: 176)

Maka patokannya adalah “Apakah ilmu itu melanggar aturan Allah (Syari’ah)?”. Jika didapati hal yang bertentangan dengan syari’ah, maka tinggalkanlah!, karena sesungguhnya ia akan menjauhkan diri kita dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mengandung kemaslahatan pada hidup kita. Contoh dari ilmu yang melanggar syari’ah adalah ilmu sihir, perdukunan, ilmu bisnis dengan unsur riba, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya banyak sekali ilmu yang bisa kita pelajari. Selain Ilmu Agama Islam tentunya, maka ilmu-ilmu tentang sains, teknologi, pertanian, kesehatan, bahasa, sosiologi dan sebagainya hukumnya boleh kita pelajari dan amalkan, karena itu akan menunjang kemaslahatan hidup kita semuanya.

2.      Senantiasa Mempelajari dan Menyampaikan Kebenaran

Ketika seseorang telah mengetahui suatu kebenaran dari Allah swt., maka terlarang bagi dirinya menyembunyikan kebenaran itu bagi orang lain, karena pada dasarnya Al-Quran memang diturunkan untuk diajarkan kepada manusia. Lihat ayat berikut:

بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِۗ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ٤٤

(Kami mengutus mereka) dengan (membawa) bukti-bukti yang jelas (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan aż-Żikr (Al-Qur’an) kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (Qs. An-Nahl [16]: 44)

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَشْتَرُوْنَ بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۙ اُولٰۤىِٕكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٧٤

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab, dan menukarkannya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya. Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang sangat pedih. (Qs. Al-Baqarah [2]: 174)

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِۙ اُولٰۤىِٕكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَۙ ١٥٩

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat, (Qs. Al-Baqarah [2]: 1159)

Bagi kita selaku Umat Islam  yang mempelajari Al-Quran, maka janganlah kita malas berdakwah dan mengajarkan Al-Quran, karena itu termasuk dari amal Jihad di jalan Allah swt.. Tentu saja dalam melaksanakannya, mesti disesuaikan dengan tingkat kemampuan kita masing-masing, kepada siapa mengajarkan dan bagaimana cara yang cocok.

Abu Hurairah ra. berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ دَخَلَهُ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ

”Barangsiapa memasuki masjid kami untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. (Sedangkan) barangsiapa memasukinya untuk tujuan selain itu, maka dia seperti melihat sesuatu (yang mengagumkan) tapi tidak menjadi bagian darinya” (HR. Hakim)[5]

Dengan mengajarkan Ilmu, maka kita telah menjadikannya bermanfaat, mengandung keberkahan serta menjadi bukti syukur kita kepada Allah swt. atas ilmu dan hidayah yang telah diterima. Rasulullah saw. memberikan perumpamaan tentang sikap manusia dalam menerima ilmu dan hidayah dari Allah swt, yakni ibarat: (1) Tanah yang menyerap air hujan dan memberikan manfaat; (2) Tanah yang tidak menyerap air hujan dan tidak memberikan manfaat sama sekali. Sebagaimana di dalam hadits:

Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. dari Nabi saw., beliau bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Di antara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa’atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya.”
(HR. Bukhari)[6]

3.      Senantiasa Meluruskan Niat (Ikhlash)

Marilah kita luruskan niat kita demi mendapatkan ridha Allah swt.. Tidak ada yang lebih besar daripada keridhaan Allah swt. Ketahuilah, segala kenikmatan duniawi seperti harta, jabatan, popularitas dan lain-lain, itu tidak ada sedikitpun nilainya bila dibanding dengan keridhaan Allah swt. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan tuntunan kepada kita, agar kita senantiasa mampu menjaga kemurniaan niat  dalam mengamalkan dan mengajarkan Al-Quran ini.  

 …وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ࣖ ٧٢

… Dan keridhaan Allah itu yang paling besar. Itulah kemenangan yang agung. (Qs. At-Taubah [9]: 72)

… وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ …

… Dan (pada hari Kiamat didatangkan pula) seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al-Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca (Qari), dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. … (HR. Muslim)[7]

Dari Hudzaifah bin Yaman ra.  ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِتَصْرِفُوا وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْكُمْ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh dan menarik perhatian manusia (popularitas). Maka barangsiapa melakukannya ia akan berada di neraka.” (HR. Ibnu Majah)[8]

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah azza wa jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud)[9]

Apakah dengan demikian, maka kita tidak boleh mengambil upah atas jasa pengajaran Al-Quran (Kitabullah) itu? Untuk menjawabnya, maka mari kita cermati hadits di bawah ini:

Dari Ibnu Abbas ra., bahwa beberapa sahabat Nabi saw. melewati sumber mata air di mana terdapat orang yang tersengat binatang berbisa, lalu salah seorang yang bertempat tinggal di sumber mata air tersebut datang dan berkata: “Adakah di antara kalian seseorang yang pandai Ruqyah? Karena di tempat tinggal dekat sumber mata air ada seseorang yang tersengat binatang berbisa.” Lalu salah seorang sahabat Nabi pergi ke tempat tersebut dan membacakan Al-Fatihah dengan upah seekor kambing. Ternyata orang yang tersengat tadi sembuh, maka sahabat tersebut membawa kambing itu kepada teman-temannya. Namun teman-temannya tidak suka dengan hal itu, mereka berkata: “Kamu mengambil upah atas kitabullah?” setelah mereka tiba di Madinah, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, ia ini mengambil upah atas kitabullah.” Maka Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ

“Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) Kitabullah.” (HR. Bukhari)[10]

Artinya jika kita menjadikan upah itu sebagai tujuan dari tersampaikannya Al-Quran, maka itu tidak dibenarkan. Namun jika upah itu hanya sebagai hak atas jasa dan sebagai sarana agar bisa memberikan metode pengajaran Al-Quran yang baik, maka itu dibenarkan. Wallahu a’lam.

Semoga kita diberikan kemudahan dan keikhlasan oleh Allah swt, untuk istiqamah dalam mempelajari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, mengamalkannya dan mengajarkannya. Aamiin.


[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/literasi

[2] Sunan Ibnu Majah No. 220. Shahih.

[3] Shahih Ibnu Hibban No. 82.

[4] Shahih Bukhari No. 71.

[5] Al-Mustadrak Imam Hakim No. 310. Hadits ini shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim.

[6] Shahih Bukhari No. 77.

[7] Shahih Muslim No. 3527.

[8] Sunan Ibnu Majah No. 255. Hasan.

[9] Sunan Abu Dawud No. 3179. Shahih.

[10] Shahih Bukhari No. 5296.