Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 1
al fatihah tafsir

Terjemah Surat Al-Fatihah

1). Al-Fatihah artinya “Pembukaan[[”, karena posisinya memang membuka seluruh rangkaian Surat-Surat. Atau “Preambul”, karena fungsinya adalah pengantar untuk memahami seluruh isi al-Qur’an.
2). Allah menggelarinya “tujuh ayat yang berulang-ulang” (15:87), karena ketujuh ayatnya—termasuk Bismillah…—wajib dibaca berulang-ulang di setiap salat (fardu dan sunat).
3). Isinya adalah intisari dari seluruh kandungan al-Qur’an: Tuhan, alam, dan manusia. Tuhan disebutnya Allah (Yang Disembah), Rabb (Yang Mencipta, Mengatur, Memelihara, dan Mendidik), dan Malik (Raja Yang Berkuasa Mutlak). Alam disebutnya العالمين (dalam bentuk jamak; artinya alam-alam atau alam yang berlapis-lapis atau bergradasi). Sementara manusia dibaginya ke dalam 3 golongan: Yang berada di Jalan Lurus; yang dimurkai; dan yang sesat.
4). Secara keseluruhan badan Surat dibagi atas tiga bagian: ayat 1-4 tentang Allah (Zat, Sifat, dan Nama-Nya). Ayat 6-7 tentang manusia. Ayat 5 tentang amal perbuatan manusia yang bisa mengikatnya dg Tuhannya menjadi satu kesatuan (spiritual dan intelektual) yang utuh.

Tafsir Ayat 1 – Surat Al-Fatihah

[Dengan (menyebut) Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang].
1). Ayat ini adalah formula praktis demi terlaksananya dalam kehidupan sehari-hari perintah Allah di Surat dan ayat yang pertama turun kepada Nabi di Gua Hira: Surat al-‘Alaq (96) ayat 1.2). Amirul Mu’minin, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw: “Seluruh rahasia Allah ada dalam Kitab-Kitab-Nya, dan seluruh isi Kitab-Kitab-Nya tercantum dalam al-Qur’an. Semua kandungan al-Qur’an tersimpulkan dalam Surat al-Fatihah. Apa yang termuat dalam al-Fatihah terangkum dalam bismillah. Dan apa yang ada dalam bismillah termaktub dalam ‘ba’ (ب), huruf pertama dalam bismillah.”
2). Dengan huruf ‘ba’ (ب artinya: ‘dengan’) di permulaan sebagai kata sambung, bisa dipastikan bahwa Bismillahir Rahmanir Rahim adalah anak kalimat. Pertanyaannya: mana induk kalimatnya? Jawabannya: semua amal-perbuatan manusia yang sejalan dengan redla Allah adalah induk kalimatnya. Maka kita bisa mengatakan: “Saya memakai baju dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.” Atau “Saya menaiki kendaraan dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang”; dan seterusnya.
3). Dengan begitu, huruf ‘ba’ (ب) benar-benar menjadi pengikat atau penghubung (yang menyatukan) antara manusia beserta seluruh amal-perbuatannya dan Tuhannya. Huruf ‘ba’ (ب) membuat manusia transenden dan beyond (melampaui) alam dunianya seraya menyeruak naik ke alam malakut, terus ke alam jabarut, hinga ke alam lahut, unuk ‘bersua’ dengan Rab-nya.
4). Perhatikan frase ini “Dengan (menyebut) Nama Allah…” Renungkan: kenapa mesti ada kata “Nama” di antara “dengan” dan “Allah”. Kenapa bukan: بالله (billah), “dengan Allah”? Jawaban: karena seluruh realitas (nyata dan ghaib)–termasuk perbuatan manusia–adalah jelmaan dari Nama-Nya. Dan, hebatnya, seluruh realitas yg merupakan jelmaan Nama-Nya itu hanya bisa ditampung oleh JIWA manusia (33:72). Maka manusia yang JIWA-nya menampung semua realitas itu–dalam istilah Ibnu Arabi–adalah “manusia sempurna” (Insan Kamil) yang dipuncaki oleh para nabi, rasul, wali, imam, dan orang-orang suci lainnya. Dalam konteks inilah Allah menyebut Rasulullah saw sebagai “rahmatan lil ‘alamin” (21:107).
5). Apakah bismillah ini hanya merupakan bagian dari Surat al-Fatihah dan bukan bagian dari Surat-Surat lainnya? Para ulama boleh berdebat mengenai nilai kesahihan hadits-hadits yang membincang masalah ini, tapi al-Qur’an punya ‘logika’-nya sendiri. Pertama, andaikata bismillah hanya bagian dari Surat al-Fatihah dan hanya ‘tempelan’ saja pada Surat-Surat lainnya, lalu mengapa Surat at-Taubah (9) tidak ‘ditempeli’ bismillah? Kedua, lalu mengapa Allah mengajari kita melalui Nabi Sulaiman as bahwa menulis surat harus dimulai dengan bismillah (27:30)? Bukankah sangat naif apabila Allah mengajari kita melakukan seperti itu sementara Dia sendiri tidak melakukannya?